Kamis, 21 April 2011

Penampakan Buaya Putih di Seaworld

Diam-diam Seaworld Indonesia memelihara puluhan buaya putih. Bedanya, buaya yang baru berumur setahun itu tidak diberi makan kemenyan dan air kembang. Benarkah ini sebuah ’’penglaris’’ agar wahana yang berada di kawasan Ancol itu ramai dikunjungi?


Mendengar kata buaya putih, mungkin bulu kudu kita akan merinding. Maklum, reptil yang bisa hidup di dua alam itu diidentikkan dengan binatang jadi-jadian, siluman, jelmaan makhluk gaib, atau hal-hal mistis lainnya. Apalagi kalau buayanya buntung dan nongol di waktu malam atau hari-hari ’’keramat’’ tertentu, ihh seraaaaam!

Di Indonesia, buaya putih itu biasanya dikait-kaitkan dengan kisah misteri dan legenda. Banyak cerita rakyat di Indonesia yang berhubungan dengan itu. Tapi apa yang dipelihara Seaworld tidak ada relevansinya sama sekali dengan peristiwa metafisik maupun alam mistik. Ini binatang asli, bukan jelmaan.

Buaya putih tergolong buaya muara (crocodylus porosus). Kalau di luar negeri biasanya disebut aligator albino. Dari sisi ilmiah, tidak ada yang aneh sedikit pun. Selain buaya, banyak jenis hewan lain yang individunya kehilangan warna tubuh atau kerap disebut albino. ’’Kondisi ini timbul akibat kerusakan genetik yang menyebabkan tidak diproduksinya melanin (pigmen warna hitam atau cokelat). Pigmen ini akan memberi warna pada kulit, rambut, dan mata,’’ kata Department Head Curatorial Seaworld Rika Sudranto.

Kehilangan melanin akan menyebabkan kulit dan rambut berwarna putih dan mata berwarna merah. Gen albino amat langka terdapat pada populasi hewan liar di alam. Sebab, ’’warna kamuflase’’ yang hilang dan si anak hewan yang berwarna putih kemungkinan besar akan dimangsa sebelum ia dapat meneruskan gen albinonya ke anak-anaknya.

Belum lama ini, saya diajak melihat secara langsung ’’penampakan’’ buaya putih di Seaworld. Jumlahnya ada 23 ekor. Wow, ternyata benar, warnanya putih. Bukan hitam atau cokelat seperti pada umumnya. Sumpah deh. Napak ke tanah. Bukan hantu atau siluman buaya putih seperti di film-film ataupun sinetron horor. Tidak percaya? Pegang saja kalau berani, dijamin akan masuk rumah sakit.

Di punggung terdapat sedikit bintik-bintik hitam. Panjang buaya itu rata-rata satu meter, karena masih berumur sekitar setahun. Konon, buaya jenis ini panjangnya bisa sampai tujuh meter seperti dalam film Alligator. Menariknya, beberapa binatang yang tersebar hampir di seluruh kepulauan Indonesia itu tidak punya ekor. Buaya cacat ini biasa disebut buaya ’’buntung’’ oleh masyarakat.

Buaya tersebut dipelihara di tempat karantina berukuran sekitar 5×8 meter, berada tepat di belakang Seaworld. Di lantai yang disemen itu sebagian kering, dan sebagian lagi berisi air. Buaya ’’bule’’ (saya menyebutnya demikian karena kulitnya putih) tampak leyeh-leyeh di air dengan mata agak sayu dan ngantuk. Terlihat sipit.
Tapi ketika seorang kurator membuka pintu karantina dan membawa kayu panjang, buaya muara/buaya air asin itu mendadak agresif. Melompat dari dalam air, seperti hendak menyerang orang yang dianggap lawan. ’’Ini semua tidak ada yang direkayasa. Saya tidak mewarnainya putih, dan saya juga tidak memotong ekornya. Kurang kerjaan apa?’’ kelakar Rika kepada saya.

Hilangnya ekor karena kelainan morfologi akibat kerusakan genetik. ’’Ya akibat mutasi sel somatik (sel tubuh). Namun kelainan tersebut tidak akan menurun pada anak-anaknya,’’ jelas Rika. Buaya tersebut menjadi putih dan buntung karena dikawinkan terus menerus hingga pada keturunan katakanlah sampai F-10 atau F-11. ’’Sama dengan manusia kan, kalau kawin dengan orang yang terlalu dekat hubungan darahnya pada generasi kesekian juga mengalami hal serupa,’’ terang dia.

Berkaitan dengan hal itu, Seaworld Indonesia sebagai tempat rekreasi yang berkonsep wisata didik akan menampilkan biota buaya putih pada Desember mendatang. Harapannya, Seaworld sebagai tempat rekreasi, konservasi dan sekaligus edukasi ini dapat memberikan gambaran sebenarnya mengenai buaya putih yang sering dipersepsikan sebagai mitos dan legenda. ’’Kalau tidak ingin memberikan edukasi, bisa saja kita arahkan ke hal mistis seperti airnya menggunakan kembang, makannya kemenyan, dan bukanya pada hari-hari tertentu dan pada malam hari,’’ kata dia bercanda.

Menampilkan buaya putih pada masyarakat merupakan upaya Seaworld Indonesia untuk mengenalkan dan memperlihatkan akan keanekaragaman makhluk hidup. Ini merupakan upaya untuk melestarikan hewan langka.

Menurut Marketing Manajer Seaworld Marlene Rosalina, Seaworld mendatangkan buaya putih dari tempat penangkarannya di Banten. Sebagai tempat rekreasi yang berkonsep wisata didik, Seaworld bermaksud mengubah cara pandang masyarakat yang selama ini menganggap bahwa buaya putih adalah penjelmaan makhluk gaib. ’’Selain dapat melihat secara langsung, Seaworld juga memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk memberi makan.


sumber ariyanto.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar